
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jamaah semua, pernahkah kita berada di situasi ini?
Iqamah sudah berkumandang…
Semua saling menunjuk,
“Antum saja.”
“Tidak, kamu saja.”
Lalu tiba-tiba ada yang maju dengan penuh percaya diri.
Namun dalam hati kita bertanya,
“Apakah bacaannya sudah benar?”
Menjadi imam bukan sekadar berdiri di depan. Ia adalah pemimpin sujud banyak orang. Amanah besar yang sering kali kita anggap sederhana.
Sebagian orang berpikir,
“Asal hafal Al-Fatihah dan satu dua surat, sudah cukup.”
Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Al-Qur’an 39:9)
Ayat ini menegaskan bahwa yang berilmu memiliki kedudukan lebih tinggi. Maka imam seharusnya adalah orang yang paling paham tentang fikih shalat dan paling baik bacaannya.
Allah juga berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Qur’an 49:13)
Artinya, bukan sekadar suara merdu atau keberanian maju, tetapi ketakwaan dan kualitas diri.
Dalam kitab “Syarh ‘ala Hadiiyatin Nashih”, dijelaskan bahwa seorang imam idealnya memiliki enam kriteria:
Paham fikih shalat
Bacaan Al-Qur’annya benar dan fasih
Wara’ (menjaga diri dari maksiat)
Lebih banyak hafalan Al-Qur’an
Nasab yang baik
Lebih dahulu hijrah
Minimal tiga yang pertama harus ada. Jika belum, maka sebaiknya menahan diri dan memperbaiki diri terlebih dahulu.
Bahkan ulama besar seperti Imam Syafi’i merasa berat memikul amanah ini. Beliau lebih mencintai menjadi muazin karena Rasulullah ﷺ mendoakan para muazin:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ
“Ya Allah, ampunilah para muazin.”
Sedangkan imam memikul tanggung jawab jamaah di belakangnya. Satu kesalahan kecil dalam bacaan bisa berdampak pada banyak orang.
Ini bukan soal gengsi.
Bukan soal siapa paling berani.
Ini soal amanah.
Kepemimpinan dalam shalat bukan tentang suara paling keras, tetapi hati yang paling siap. Bukan tentang siapa yang percaya diri, tetapi siapa yang paling menjaga diri.
Kalau belum layak, belajar.
Kalau sudah layak, tetap rendah hati.
Karena di setiap takbir yang engkau pimpin, ada doa dan amanah yang engkau pikul diam-diam.
Sekarang jujur…
Jika iqamah berkumandang hari ini,
apakah kita siap maju?
Atau memilih memperbaiki diri terlebih dahulu?
Simpan tulisan ini sebagai pengingat sebelum berdiri di depan jamaah. Bagikan kepada teman yang sering “langsung maju” tanpa persiapan.
#ImamShalat#semuaorang#pengikut#fbpro#sorotan#jangkauanluas#ramadhan
| Luas Area | 1.927 m2 |
| Luas Bangunan | 1.927 m2 |
| Status Lokasi | Sewa Pakai |
| Tahun Berdiri | Mei 2025 |